Assalamuallaikum, Bismillahirrahmanirrahim, In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful Greatefully to Allah S.W.T because of the guidance and the mercy given, so I can start to build my blog. I want to say thank for all of my friends that support me to make this blog can be established
Tampilkan postingan dengan label Bakso Khalifatullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bakso Khalifatullah. Tampilkan semua postingan
Senin, 15 Mei 2017
MINDSET
Di sebuah perusahaan sepatu ada seorang bos yang ingin meluaskan pasar penjualan produknya, untuk mewujudkan niatnya tersebut dipanggilah 2 orang karyawan, yaitu Si A dan Si B.
Si Bos
“Kalian berdua saya panggil ke kantor saya karena kalian akan saya beri tugas untuk memasarkan sepatu dari perusahaan kita.”
“A kamu bertugas di wilayah yang penduduknya sudah mengenal sepatu.”
“B kamu bertugas di wilayah yang penduduknya belum mengenal sepatu.”
Si A
“Baik bos”
Si B
“Oke bos”
Keduanya diberikan 10 pasang sepatu dengan tipe yang sama dan keduanya diberikan waktu yang sama yaitu selama 1 minggu untuk memasarkan sepatu-sepatu tersebut, dan setelah satu minggu mereka berdua harus melapor kembali kepada Si Bos bagaimana hasil dari penjualan masing-masing.
Dan mereka pun berangkat ke daerah yang sudah ditentukan.
Mereka pun memasarkan produknya masing-masing.
Dan setelah 1 minggu berlalu mereka melaporkan hasil penjualan mereka.
Si Bos
“Sudah 1 minggu semenjak saya memberikan kalian tugas untuk memasarkan sepatu, bagaimana hasilnya?”
“Di mulai dari kamu A, bagaimana hasil penjualan kamu?”
Si A
“Alhamdulillah ya, sesuatu banget… penjualan sepatu saya laris manis, bahkan banyak yang mau pesan lagi karena penduduk di tempat berjualan saya sudah familiar dengan sepatu, maka itu cukup mudah untuk menawarkan sepatu kepada mereka.”
Si Bos
“hebat, hebat”
“Lalu bagaimana dengan kamu B, bagaimana dengan hasil penjualan kamu?”
Si B
“Hmm… boro-boro mau laris bos, tidak ada satupun sepatu yang terjual karena di tempat berjualan saya masyarakatnya masih primitif, belum familiar dengan sepatu, maka itu saya sulit menawarkan sepatu kepada mereka.”
“Ini tidak fair bos, Si A diberikan lokasi yang enak, sedangkan saya diberikan lokasi yang tidak enak.”
Si Bos
“Baiklah… supaya fair saya akan men-switch alias menukar tempat berjualan kalian.”
“B sekarang kamu bertugas di wilayah yang penduduknya sudah mengenal sepatu.”
“A sekarang kamu bertugas di wilayah yang penduduknya belum mengenal sepatu.”
“Kalian berdua akan kembali diberikan produk yang sama dan waktu yang sama yaitu selama 1 minggu, setelah 1 minggu kalian harus memberikan laporan kepada saya.”
Si A
“Baik bos”
Si B
“Oke bos”
Setelah satu minggu berlalu, keduanya datang ke ruangan Si Bos untuk memberikan laporan.
Si Bos
“Oke, saya ingin mendengar laporan penjualan dari kalian berdua, dimulai dari kamu A.”
Si A
“Wow, luar biasa bos… semua sepatu terjual! bahkan terjual lebih cepat dari tempat berjualan saya yang pertama, lebih dari itu bos, di tempat saya yang baru lebih banyak penduduk yang mau memesan lagi karena penduduk di tempat saya berjualan masih primitif dan belum familiar dengan sepatu, maka itu sepatu dianggap barang baru bagi mereka sehingga banyak penduduk yang ingin memakainya.”
Si Bos
“Luar biasa, hebat, hebat.”
“Lalu bagaimana dengan kamu B, bagaimana dengan hasil penjualan kamu?”
Si B
“Hmmm…. hanya terjual 2 pasang sepatu bos, itu juga susah banget… karena di tempat berjualan saya penduduknya sudah familiar dengan sepatu, maka itu sepatu bukan lagi barang baru bagi mereka sehingga hanya terjual sedikit sepatu…”
Si Bos
“Hmmmmm……”
Apa yang kita bisa pelajari di kisah tersebut?
Jawabannya adalah “Susah atau Mudah Tergantung Pada Pola Pikir Kita”
Kalau cara kerja kita benar dan berpikir positif maka hasilnya Insya Allah akan positif.
Berpikirlah positiflah…! Lihat segala sesuatu dari sisi baiknya.
Labels:
A deep meaning for our life,
akuntansi,
alami,
alim,
amal,
awesome,
Bakso Khalifatullah,
berbuat baik,
bersyukur,
minset,
pola pikir
Posted by
isusay
Jam
19.53
Tidak ada komentar:
Jumat, 26 November 2010
Bakso Khalifatullah
Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak
Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci
gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.
“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.
“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.
“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”
Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”
“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.
“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.
“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.
Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.
Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya.
Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.
Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul.
Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.
Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya.
Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya:
“Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Peradaban saya masih peradaban “milik saya”.
Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.
30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”
Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar.
Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.
“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”
“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”
“Berarti saya hutang?”
“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”. Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!
Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah toko kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya.
Ketika datang saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”
Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk:
“Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”
Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece.
Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi.
Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun.
Bakso Khalifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.
Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol.
Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama.
oleh : Emha Ainun Nadjib
“Selalu begitu, Pak?”, saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.
“Maksud Bapak?”, ia ganti bertanya.
“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”
Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya”
“Maksud Pak Patul?”, ganti saya yang bertanya.
“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?”, saya mengejar lagi.
“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.
Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.
Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya.
Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!”, tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.
Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul.
Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.
Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya.
Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya:
“Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan”.
Peradaban saya masih peradaban “milik saya”.
Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya.
30 th silam saya pernah menuliskan kekaguman saya kepada Penjual cendhol yang marah-marah dan menolak cendholnya diborong oleh Pak Kiai Hamam Jakfar Pabelan karena “kalau semua Bapak beli, bagaimana nanti orang lain yang memerlukannya?”
Ilmunya penjual jagung asal Madura di Malang tahun 1976 saya pakai sampai tua. Saya butuh 40 batang jagung bakar untuk teman-teman seusai pentas teater, tapi uang saya kurang, hanya cukup untuk bayar 25, sehingga harga perbatang saya tawar.
Dia bertahan dengan harganya, tapi tetap memberi saya 40 jagung.
“Lho, uang saya tidak cukup, Pak”
“Bawa saja jagungnya, asal harganya tetap”
“Berarti saya hutang?”
“Ndaaak. Kekurangannya itu tabungan amal jariyah saya”. Doooh adoooh…! Tompes ako tak’iye!
Di pasar Khan Khalili semacam Tenabang-nya Cairo saya masuk sebuah toko kemudian satu jam lebih pemiliknya hilang entah ke mana, jadi saya jaga tokonya.
Ketika datang saya protes: “Keeif Inta ya Akh…ke mane aje? Kalau saya ambilin barang-barang Inta terus saya ngacir pigimane dong….”
Lelaki tua mancung itu senyum-senyum saja sambil nyeletuk:
“Kalau mau curi barang saya ya curi saja, bukan urusan saya, itu urusan Ente sama Tuhan….”
Sungguh manusia adalah ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan Allah, master-piece.
Orang-orang besar bertebaran di seluruh muka bumi.
Makhluk-makhluk agung menghampar di jalan-jalan, pasar, gang-gang kampung, pelosok-pelosok dusun dan di mana-manapun.
Bakso Khalifatullah, bahasa Jawanya: bakso-nya Pak Patul, terasa lebih sedap karena kandungan keagungan.
Itu baru tukang bakso, belum anggota DPR. Itu baru penjual cendhol, belum Menteri dan Dirjen Irjen Sekjen. Itu baru pemilik toko kelontong, belum Gubernur Bupati Walikota tokoh-tokoh Parpol.
Itu baru penjual jagung bakar, belum Kiai dan Ulama.
oleh : Emha Ainun Nadjib
Labels:
bakso,
Bakso Khalifatullah,
emha ainun nadjib,
ibadah,
kiai ulama,
sate
Posted by
isusay
Jam
18.58
Tidak ada komentar:
Langganan:
Postingan (Atom)